ponselnya menunjukkan pukul 02.44 dini hari ketika ia terbangun dari tidurnya akibat notifikasi panggilan video dari si pacar, fabio. ada apa? batinnya bingung bertanya pada diri sendiri.

meskipun begitu, si lelaki taurus tetap mengangkat panggilan itu walaupun dengan sedikit perasaan malas.

begitu panggilan tersambung, betapa terkejutnya kenzo melihat layar ponselnya tengah menyoroti tubuh polos di gemini. seketika itu pula, posisi tidurnya berganti menjadi bersandar pada kepala kasur, mata menjadi sedikit membesar, kantuk yang tadi meliputinya jadi hilang entah kemana, dan fokus utama si taurus tertuju kepada dua puting fabio. terlihat puting kiri tengah dimainkan dengan tangannya sendiri, sedangkan puting kanan dibiarkan begitu saja. ke mana tangan satunya lagi?

kenzo pun menurunkan sedikit pandangannya, terlihat tangan lainnya tengah dijadikan tumpuan untuk fabio menduduki bantal dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, dilengkapi dengan gerakan maju-mundur. ternyata fabio sedang memuaskan dirinya sendiri.

oh, lihatlah perut ramping itu, meliuk-liuk seksi menggesek bagian bawahnya ke bantal yang sudah pasti demi mencari kenikmatan. jangan lupa pula wajah mungil itu. wajah yang menunjukkan ekspresi keenakan, namun juga sedikit diliputi ekspresi frustasi.

sepertinya si pacar kecil sudah lama berada pada posisi itu, namun belum kunjung mendapatkan klimaksnya. kenzo yakin dengan itu, karena pemandangan seperti ini bukan cuma sekali ia lihat. ingat, fabio itu suka sekali menggoda pacarnya.

"sayang? ngapain?" setelah sekian menit berlalu, si taurus bertanya dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban.

"ih?! kok masih nanya?!" muka sebal si lebih muda terlihat sangat jelas, "aku lagi main sendiri, aku pengen diliatin abang!"

"iya, sayang," jawaban singkat itu dilengkapi dengan senyum kecilnya. ia sangat suka dengan pemandangan erotis yang ditampilkan pacarnya sekarang. mulai dari ekspresi, gerakan, dan desahan sang pacar, ia sangat menyukai itu semua. hal ini sudah cukup untuk membangunkan sesuatu di balik celananya.

tentunya, semua itu akan lebih lengkap jika ditambah dengan tangisan si pacar kecil. ia membayangkan satu tangannya bermain pada puting si pacar, satu tangan lainnya mencekik leher jenjang si pacar, penisnya menumbuk telak tepat pada prostat si pacar, dan temponya pun akan ia buat seintens mungkin. dengan itu semua, ia yakin ia bisa menciptakan air mata yang mengalir deras dari mata bulat lucu itu.

"anjing, bisa gila gua," kenzo mengumpat kecil akan fantasinya.

namun, lamunan kenzo buyar akibat panggilan dari fabio, "abang..."

"iya, sayang?"

"abang, liat," fabio meraih ponselnya dan mengarahkannya dari atas tubuhnya untuk menyoroti tepat dari bagian dada sampai ke bawah, "aku udah becek dikit," dan tangan yang tadinya sibuk bergantian bermain di puting kiri dan kanan, kini beralih memijat lembut penis miliknya. tak melewatkan diri untuk mengelus ataupun menggaruk kecil ujung penis, demi menunjukkan cairan lengket putih yang sudah mulai menghiasi kegiatan erotisnya.

"nakal banget pacar aku." "iya, lagi pengen."

"enak, sayang?"

"nggak, aku capek. aku belum keluar-keluar dari tadi, abang. padahal aku mikirin kamu. can you help me, abang?" fabio meminta pertolongan kenzo dengan menunjukkan muka melasnya dengan harapan si pacar mau betulan membantunya.

"yaudah, jauhin bantalnya. bio sayang mau masukin pake jari aja atau mau ngocok? biar aku bantuin dari sini," kenzo hanya menawarkan dua opsi itu.

kening fabio seketika berkerut tidak terima, "ih?!"

"mau dibantuin 'kan, sayang?”